Wednesday, April 15, 2020

Ulasan Seputar Ciri Virus Corona dan SARS-CoV

Ulasan Seputar Ciri Virus Corona dan SARS-CoV

Virus corona merupakan keluarga besar dari penyakit flu biasa yang menyebabkan penyakit yang lebih parah seperti SARS-CoV dan MERS-CoV dan sebagian besar dari virus tidak berbahaya. Corona virus merupakan virus zoonis dipercaya tersebar dari hewan ke manusia. SARS-CoV disebar dari musang ke manusia dan MERS-CoB ditularkan dari unta dromedis yang mampu menginfeksi manusia. Virus ini pertama kali ditemukan pada tahun 1960 yang memiliki ciri virus corona seperti flu biasa dan ditemukan pada hidung pasien. Jenis corona yang dapat ditemui pada tubuh manusia adalah OC43 dan 229E sehingga akan bertanggungjawab pada flu biasa dan memiliki bentuk struktur yang memiliki permukaan layaknya seperti mahkota.

Penyakit yang disebabkan oleh virus corona adalah MERS yang menyebabkan 858 telah meninggal setelah muncul pertama kali di Arab dan di negara lain seperti Eropa, Afrika, Timur Tengah dan ASIA. Di tahun 2014 orang pertama yang mengalami MERS mendapatkan perawatan di Indiana dan Florida dan diketahui memiliki riwayat perjalanan dari Arab. MERS merupakan kejadian luar biasa yang terjadi di Arab. Gejala ini ditandai dengan kesulitan bernapas, batuk dan demam yang menyebar ke orang lain dan memiliki resiko fatal 30% hingga 40% pada pengidapnya.

SARS disebabkan oleh virus corona yang merupakan penyakit menular dengan nama penyakit lain disebut SARS-CoV dengan bentuk pneumonia yang telah mengancam jiwa. Virus ini bermula di Guangdong Tiongkok Selatan pada tahun 2002 yang akhirnya tiba di wilayah Hongkong. SARS-CoV menyebar dengan cepat hingga telah menginfeksi 37 negara dan tahun 2003 telah menginfeksi sebanyak 774 meninggal dunia dan tahun 2015 tidak terdapat laporan lebih lanjut. Ciri virus corona ditandai dengan sesak napas, diare, batuk kering dan panas dingin.

Berdasarkan hasil penelitian 2019-nCoV lebih ringan dibandingkan SARS. Gejala yang muncul pada penyakit pernapasan ini adalah demam, sesak napas, batuk, sakit tenggorokan, hidung meler maupun pilek dan irama pernapasan yang lebih cepat. Berdasarkan statistik yang menyatakan bahwa angka dari penularan 2019-nCoV cukup rendah dibandingkan dengan SARS, saat ini hingga 200 pasien telah dapat dipulangkan dengan perawatan intensif. Sedangkan gejala SARS hampir mirip dengan 2019-nCoV namun awalnya ditandai dengan demam hingga 38 derajat Celcius diikuti diare, kedinginan dan menggigil dan merasakan flu. SARS hanya membutuhkan waktu cepat untuk mampu menular penyakit dengan sangat cepat dan informasi terkait SARS saat itu masih sedikit.

Ibu hamil merupakan salah satu orang yang memiliki resiko terkena 2019-nCoV hal ini akan berpengaruh dengan masakan kesehatan pada berat badan dan perkembangan janin ketika ibu mengandung. Untuk itu ibu hamil perlu melakukan langkah-langkah pencegahan. Langkah pencegahan dimulai dari mencuci tangan rutin, menghindari kontak dengan orang yang sedang batuk dan demam, menutup mulut dan hidup ketika bersin dan batuk, dan cuci tangan serta buang tisu setelah digunakan, jika mengalami gangguan pernapasan maka sebaiknya segera periksakan diri dan pastikan setiap makanan dimasak hingga matang.

Saat ini terdapat themal scanner di tempat umum untuk memperhatikan pelayanan transportasi dan menjaga penyebaran 2019-nCoV. Thermal scanner akan membantu pemindaian suhu tubuh dan diatur untuk mendeteksi suhu tubuh lebih dari 38 derajat Celcius. Suhu tubuh yang tinggi menjadi tanda bahwa tubuh mengalami infeksi patogen atau penyakit tertentu dan alat ini hanya untuk melakukan deteksi suhu tubuh tanpa menentukan penyebabnya dan ciri virus corona telah menginfeksi tubuh.

No comments:

Post a Comment